Selasa, 17 Mei 2011 - 12:21:17 WIB
Budaya Corat-Coret Pasca UN
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pesantren - Dibaca: 475 kali

Corat-coret dan konvoi motor pasca pengumuman UN sudah membudaya pada pikiran pelajar tingkat SLTP dan SLTA di Indonesia sampai saat ini. Hal ini menjadikan citra pelajar dan pendidikan Indonesia menjadi jelek. Alih-alih mereka ingin menjadikan baju yang mereka corat-coret dengan pylox sebagai kenang-kenangan selama mengenyang pendidikan SLTP/SLTA. Padahal alasan itu tidak terbukti karena baju yang mereka jadikan dalih kenang-kenangan hanya dijadikan kain pel.

Sungguh sangat memilukan budaya corat-coret yang sudah mendarah daging dalam mental pelajar Indonesia ini. Melihat masalah ini haruslah ada solusi untuk meminimalisir dan seterusnya mengikis habis budaya ini.

Hingar bingar suasana keramaian pelajar berkonvoi dengan motor berseragam corat-coret penuh warna baik laki-laki maupun perempuan berbading 180 derajat dengan suasana para santri senior TMI Darul Mujahadah. Mereka menyambut kelulusan mereka dengan sujud syukur atas keberhasilan mereka sebagai husnul khotimah. Ditambah lagi dengan sederet agenda yang harus mereka laksanakan menjelang perpisahan mereka dengan almamater tercinta mereka selama 4 dan 6 tahun. Di antaranya perisapan Haflatul Ikhtitam dan Rihlah Iqtishodiyah ke beberapa tempat sebagai modal mereka setelah lulus.

Jadi dapat ditarik benang merah untuk mengikis budaya negatif pelajar Indonesia pasca pengumuman UN yaitu bagaimana mencetak mental mereka supaya bisa berfikir jernih memandang ke depan bahwa budaya seperti itu tidak ada artinya. Hal ini harus mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah dan orang-orang yang memegang peranan dalam pendidikan. Saya sangat setuju sekali dengan solusi yang ditawarkan oleh Samsul Pasaribu bahwa pemanfaatan teknologi bisa mengurangi budaya negatif pelajar tersebut. Di antaranya yakni pengumuman kelulusan dilakukan tidak di sekolah-sekolah tapi dilakukan melalui koran dan situs resmi sekolah. Jadi para orang tua dan siswa tidak harus datang ke sekolah serta pengamanan ekstra ketat dari aparat kepolisian. Hal ini telah diterapkan di SMAN1 Mataram, NTB.

Ismail Marzuki  




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)