Senin, 10 Oktober 2011 - 10:26:26 WIBKehidupan Dunia Kesenangan Yang Menyesatkan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Hikmah - Dibaca: 224 kali

Allah telah mengingatkan kita tentang salah satu karakteristik dunia dengan firman-Nya dalam surat Ali Imron 185:
Yang artinya: ‘’Tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan kesenangan yang memperdayakan’’.
Memang asyik hidup di dunia ini. Saking asyik dan uniknya banyak manusia yang terkena tipu daya oleh keasyikan dan keunikna dunia itu sendiri. Marilah kita perhatikan sebagian dari keasyikan dan keunikan dunia ini.
Sebagian besar manusia berusaha mencari dan menumpuk harta benda dengan bersusah payah, berhabis tenaga. Tak peduli hujan dan panas, haus maupun lapar. Kadang-kadang mereka meninggalkan kampung halaman, anak dan istri, padahal ada pula manusia yang yang tak tertarik akan harta benda. Asal hatinya tentram dalam berdzikir mengingat Allah, seperti kebiasaan kaum sufi yang masykur,cukuplah. Dia ingin kekayaan juga, tetapi kekayaan yang kekal yaitu kekayaan jiwa. Sedangkan kekayaan dunia adalah fana.
Ada orang yang lupa bahwa malam adalah saat yang tepat untuk istirahat. Karena lupa, maka ia gunakan pula waktu malam untuk bekerja menambah harta (ngongso kata orang jawa), guna mencari beberapa keping emas atau perak yang akan dideretkan di dadanya yg dinamai orang dangan bintang. Untuk itu ia tak peduli negaranya dijarah bangsa lain. Biar rakyat melarat asal dirinya kaya. Padahal sadar-sadar, ada pula golongan yg tak lekat dihatinya, segala perhiasan yang tak kekal itu, karena di pandangnya bahwa segala barang-barang perhiasan itutak lebih bilainya dari permainan kuda-kudaan bagi anak kecil. Anak kecil itu bahagia bermain kuda-kudaan dari plastik.
Pendek kata, manusia normal baik secara individu maupun sebagai mahluk sosial pasti mendambakan apa yang dinamakan kebahagiaan. Adapun cara dan usahanya bervariasi. Namun perlu kita ketahui, bahwa kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak dan relatif, ia hanya mudah diangan-angankan tetapi sukar dilaksanakan. Banyak manusia mencita-citakan suatu rumah tangga yang sejahtera, yang ber-motto-kan: بيتى جنتى , rumah tanggaku adalah surgaku. Tetapi dalam kenyataannya, mereka hanya pandai membuat surga di awang-awang aliashanya bisa berkhayal saja. Lain harapan lain kenyataan, jauh panggang dari api. Meskipun gedung dilengkapi dengan perabot yang serba mahal, keperluan hidup lahiriyah serba terpenuhi, banyak manusia yang merasakan bahwa hidupnya bagai di neraka, karena hubungan antar anggota keluarga berjalan tidak harmonis. Ibu selalu cekcok dengan ayah, ayah senantiasa menghardik anaknya , anak selau membangkang perintah orang tuanya. Tak ubahnya seperti itik berenang dalam air mati kehausan, ayam bertelur dalam lumbung padi mati kelaparan. Atau seperti santri yang pindah sekolah lantaran tidak kerasan hidupdalam dunia pesantren yang diliputi oleh suasana keikhlasan, persaudaraan dan kedamaian.
Itulah sebagian daripada keasyikan hidup di dunia, dimanabanyak orang tepedaya dalam upaya menggapai kebahagiaan.
Mengapa banyak manusia yang menemui jalan buntu dalam mencari kebahagiaan? Karena salah jalan yang mereka tempuh.
Sebagai ilustrasi, dikemukakan secercah celah kehidupan seorang pemuda di kota besar. Seorang pemuda sedang berdandan, memakai pakaian terindah yang dimilikinya. Putar kanan, putar kiri di hadapan cermin. Malam itu dia akan menonton ke bioskop bersama kawan-kawannya. Mereka akan menenangkan jiwa, refreshing katanya. Dengan jalan menghibur diri setelah benaknya pengap lantaran banyaknya PR matematika yang di tugaskan oleh bapak gurunya yang wajahya angker, tak pernah senyum. Film yang akan di tonton adalah sebuah film yang cukup hot, suatu hiburan yang akan dapat mengendorkan ketegangan syaraf, sehingga otak menjadi segar kembali. Demikianlah perhitungannya. Kebetulan film yang akan ditonton adalah “Gejolak Kawula Muda”, salah satu diantara banyak film-film indonesia yang ikut mempercepat proses hancurnya generasi muda. Film semacam ini seharusnya dihindarkan jauh dari para pemuda yang sadar akan masa depannya yang masih panjang. Sebetulnya ada film lain di bioskop yang lebih dekat yang tidak tergolong film hot. Tapi buat apa menonton sesuatu kurang menarik, padahal yang menarik adalah film yang demikian.
Setelah hampir 1,5 jam mereka berada di dalam gedung bioskop yang mengasyikan itu, keluarlah mereka menyusuri lorong-lorong jalan kota, sambil berbincang tantang film yang baru saja ditontonya. Setiap kepala pemuda itu dipenuhi oleh pikiran yang sama. Memang hebat dan merangsang film itu. Tetapi alangkah tidak enaknya, karena sudah terangsang ketika film sedang berlangsungdan pasangan-pasanganpenonton mencoba mempraktekan apa yang sedang dilihat di layar putih, timbulah kini suatu gejolak hati yang tidak tersalurkan lagi. Celaka, pikir mereka. Kita jadi bulan-bulanan, kita digerogoti oleh keinginan yang tak mungkin terpenuhi.
Di pembaringan, berjam-jam mereka tak dapat tidur. Berulang kali badan dibalik ke kanan diputar ke kiri dengan resah. Pikiran kembali melayang ke film yang baru saja di tontonnya. Dan pikiran itu kembali menjadi khayalan. Membayangkan diri, andaikata menjadi pemuda yang menjadi lakon dalam film tadi dengan segala kehebatannya.
Telah berhasilkah mereka menenangkan pikiran yang tadinya lelah belajar? Belum, bahkan dengan tindakan itu mereka justru menambah kepusingan otaknya masing-masing. Mereka melibatkan diri dalam masalah yang sebenarnya dapat mereka hindarkan. Mereka seperti mencari beban untuk menambah beban yang telah ada.
Persis seperti musafir yang mengembara di gurun tandusberselimut pasir belaka, dicekam oleh kehausan yang tiada tertahan. Pada saat-saat yang kritis itu dilihatnya suatu oase (mata air) penuh kesejukan, berisi air putih bersih penawar kehausan. Lalu ia bergegas mendekatinya untuk untuk meneguk secangkir air sekedar pelepas dahaga, penyambung hidup, pengulur usia. Namun apa daya, setelah tangannya mulai mengulur ingin menjangkaunya, tiba-tiba oase dan segala isinya, hilang dari pandangan matanya. Rupanya si musafir terlalu berkhayal ingin bahagia. Telah silap mata akibat lama menanggung derita. Karena ternyata ia sangka oase itu hanyalah sebuah fatamorgana. Tentang sebuah fatamorgana ini, Allah menyebutkan dalam surat AnNur 39 sebagai berikut :
"Seperti bayangan panas (fatamorgana) di padang pasir, orang yang haus mengira, bahwa itu adalah air. Sehingga apabila ia sampai ke tempat itu, ia tidak mendapati sesuatu apapun."
Bukan pemuda dan musafir itu saja yang mengalami nasib demikian. Banyak sekali pembesar-pembesar dan orang-orang kaya yang sesudah lelah dalam bertugas seharian, menambah kelelahan itu dengan mencoba menghibur diri melalui tontonan yang merangsang. Mereka tonton tari-tarian striptease (tari telanjang) dan show erotic, dan menghibur diri di night club-night club yang sebenarnya hanya semakin menambah beban otak saja. Tidaklah mengherankan, kalau kita mendengar berita bahwa seorang pembesar mati mendadak sontak di sebuah tempat hiburan yang sengaja disediakan untuk mengumbar nafsu. Otaknya yang lelah itu tidak tahan, dan akhirnya terjadilah pendarahan.
Allah memberi peringatan: "Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang yang menyeru Tuhan mereka di kala pagi dan petang, karena mengharap keridhoannya. Dan janganlah berpaling kedua matamu dari mereka, karena engkau mengharap perhiasan hidup di dunia. Dan janganlah engkau turuti orang yang telah kami lalaikan hatinya dari mengingat kami dan memperturutkan hawa nafsunya, karena pekerjaan mereka itu melewati batas’’ (Al-Kahfi : 28).
Mengapa harus ditinggalkan orang-orang berimanyang sesudah lelah bekerja lalu menghibur dirinya dengan membaca Al-Qur’an, atau menghibur dirinya dengan keluaaraga yang berbahagia. Mengapa ditonton hiburan yang mendatangakan kelelahan? Padahal hanya dibolehkan dalam hal-hal yang pantas? Mengapa harus diikuticara-cara orang yang dibenci Ilahi, yang dengan kekafirannya mereka tak tahu malu? Yang apabila ilmunya semakin meningkat amalnya semakin bejat, yang semakin pandai semakin lalai, yang semakin pintar budainya semakin terlantar, yang semakin lama tinggal di pesantren semakin merusak disiplin pesantren.
Janganlah tergoda oleh mereka, karena mereka adalah umpan neraka. Mereka telah dijanjikan oleh Allah: "Katakanlah! Bersenang-senanglah kamu dengan keingkaranmu itu sementara saja, karena kamu akan jadi penghuni neraka." (Az-Zumar : 8)
Itulah janji Allah. Allah takkan pernah lupa dengan janjinya dan tidak mungkin pula beerdusta. Apakah orang-orang akan ragu? Sedangkan kayu yang tak berguna akan bibakar menjadi abu. Konon lagi manusia yang telah menerima nikmat demikian banyaknya jika tak mampu tunduk kepada Tuhannya, tentu sangat pantas untuk di panggang di api neraka oleh penciptanya.
Surat Az-Zumar ayat 8 tersebut di atas tidaklah mengandung arti. Bahwa Islam tidak melarang manusia untuk mencari kesenangan, hanya ingatlah batas-batas yang telah ditentukan. Bukanlah Islam melarang mencari kemewahan, hanya saja jangan kelewatan, sehingga tak peduli aturan Tuhan. Patutkah sementara menikmati anugrahNya, kita ingkari Dia? Sementara kita hidup di dunia yang fana ini, pantaskah kita lupakan kehidupan akherat yang kekal nanti?
Memang segala apa yang ada di alam ini diciptakan oleh Allah untuk kita jenis manusia. Firman Allah: "Dialah Allah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi ini untuk kamu” (Al-Baqoroh : 29).
Tetapi janganlah lupa diri. Janganlah menganggap yang perlu hanya dunia ini. “Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia” (Ad-Dhuha : 4)
Kita diperingatkan oleh Allah supaya jangan sampai lupa. Tidaklah kita percaya? Akan kita korbankan jugakah akhirat untuk dunia? Akan kita korabankan jugakah uang puluhan ribu rupiah untuk tontonan yang enaknya sekejap saja? Akan dihamburkan pulakah sejumlah uang kita untuk membeli buku-buku novel porno, pembawa arus degradasi moral perusak jiwa yang merupakan obat bius penghancur generasi muda yang menghantar mereka ke depan pintu gerbang keruntuhan, sedangkan buku-buku bernilai penenang jiwa tidak kita suka. Dan kemudian untuk jalan Allah kita keluarkan hanya beberapa rupiah saja? Seterusnya sisanya kita hitung-hitung saja. "Orang-orang demikian menyangka bahwa hartanya akan mengekalkan dirinya." (Al-Humazah : 3).
"Sekali-kali jangan berbuat sedemikian rupa. Sesungguhnya orang-orang yang seperti itu akan dicampakkan ke dalam huthomah." (Al-Humazah : 4) "Apakah huthomah itu?" (Al-Humazah : 5) "Yaitu api Allah yang bernyala-nyala. Yang membakar sampai kehati (manusia). Sesungguhnya api itu di tutupkan atas mereka sedang mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang" (Al-Humazah : 6-9)
Keasyikan dunia dan debu kehidupan yang senantiasa bergolak ini kita hadapi dengan jiwa yang tenang, jiwa yang sakinah dan mutmainnah, yaitu dengan jalan menyuburkan ibadah dan menguatkan aqidah. Inilah jalan yang benar agar kita tidak tidak tertipu oleh fatamorgana kehidupan dunia.

- Layu Sebelum Mekar
- Semua Pasti Berlalu
- Makna dan Berkah Ramadhan Bagi Muslim Kulit Hitam AS
- Seberapa Besar Kita Mengagungkan Allah?
- Nikmat Waktu
0 Komentar :
Isi Komentar :





Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 

