Shalat Sebagai Kebutuhan

Tanggal: Rabu / 19 April 2017
shalat-sebagai-kebutuhan

Pondok Pesantren Darul Mujahadah - Rajab merupakan bulan yang istimewa. Pada bulan ini terjadi peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW mendapat perintah shalat lima waktu. Shalat merupakan ibadah kepada Allah SWT yang berupa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syarak.

 

Bahasa lain dari shalat di antaranya disebut juga dengan doa, sujud, rukuk, dan zikir. Ketika shalat, setiap kita diharuskan untuk khusyuk dalam menjalankannya. Jadi, shalat bukanlah sekadar bacaan yang dihafalkan yang kita lakukan sehari lima kali. Sejatinya shalat merupakan bentuk konkret dari keyakinan pikiran dan hati terhadap adanya Tuhan yang menguasai hidup dan kehidupan manusia serta memiliki seluruh sifat keutamaan.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang menganggap shalat itu hanya sekadar ritual wajib semata. Padahal, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa shalat itu adalah tiang agama. Hal tersebut menunjukkan bahwa shalat merupakan faktor penting bagi berdirinya agama Islam. Dengan demikian, shalat juga menjadi faktor yang sangat penting bagi kehidupan kita. Maka, shalat dengan segala keutamaannya merupakan suatu kebutuhan bagi kita semua baik kebutuhan individual, keluarga, maupun sosial.

 

Pertama, shalat sebagai kebutuhan individual. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah RA yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa shalat lima waktu bagaikan sungai yang mengalir, yang apabila kita mandi padanya tiap hari lima kali, maka tidak akan ada satu pun kotoran yang tertinggal pada tubuh kita.

 

Shalat lima waktu diibaratkan oleh Rasulullah SAW sebagai sungai yang akan membersihkan diri kita dari dosa-dosa. Selain itu, pada hari akhir nanti, ketika manusia dikumpulkan untuk dihisab, amalan yang pertama akan dihisab adalah shalat. Maka, berbahagialah pada hari itu orang-orang yang beriman, orang-orang yang senantiasa menjaga shalatnya dan menjadikan shalat sebagai kebutuhan.

 

Kedua, shalat sebagai kebutuhan keluarga. Allah SWT menciptakan pasangan bagi setiap kita. Apabila sebuah keluarga menjadikan shalat sebagai kebutuhan, maka akan terbentuk sebuah keluarga yang ditopang oleh tiang agama yang kokoh. Oleh karena itu, kita diharuskan senantiasa saling mengingatkan di dalam keluarga untuk menjaga shalat, mengajarkan, dan mencontohkannya kepada anak-anak kita shalat yang baik dan benar. Jika shalat sudah menjadi kebutuhan keluarga, niscaya akan terbentuk keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah serta terjauh dari api neraka.

 

Ketiga, shalat sebagai kebutuhan sosial. Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ini dijelaskan dalam Alquran surah al-Ankabut ayat 45. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa shalat itu mengandung hikmah dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan perbuatan keji dan mungkar serta mendorong pelakunya untuk dapat menghindarinya.

 

Seseorang yang melakukan shalat dengan baik akan mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar serta dari berbuat zalim kepada orang lain. Sehingga, tercipta suasana kondusif di masyarakat dan mendorong keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah hakikat bahwa shalat itu merupakan kebutuhan sosial.

 

Semoga kita bisa menjadikan shalat sebagai kebutuhan sehingga menjadi individu saleh yang bisa menjadi teladan bagi keluarga, umat, dan bangsa. Wallahu a'lam.

 

Sumber: Khazanah Republika

Komentar