Long Life Education

Tanggal: Sabtu / 22 April 2017
long-life-education

PP Darul Mujahadah - Meskipun hadis ‘uthlub al-ilm minal mahdi ilal lahdi’secara isnad jatuh dan hanya mashur indza lissani nas’ saja; namun inti ajaran dalam hadis tersebut tetap sesuai dengan al-Qur’an; “akhrajakum min buthuni ummahatikum la ta’lamuuna syaian wa ja’alakum as-sam’a wa al-abshara wa al-af’idata” (an-Nahl: 78); intinya; kita lahir dalam kondisi tidak mengerti apa-apa, namun Allah membekali kita dengan tiga potensi yang memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan. Ketiga potensi itu adalah; telinga, mata, dan hati. Dari ketiga potensi inilah manusia memasukan pengetahuan dalam dirinya. Lalu tugas akal memproses pengetahuan itu menjadi ilmu.

 

Terlepas dari memperbincangkan keshahihan hadis di atas; bahwa perintah menuntut ilmu itu berlaku bagi kita mulai umur yang paling dini hingga tutup usia. Karenanya; potensi pendengaran, penglihatan, dan rasa; harus sedini mungkin dilatih dengan hal-hal yang baik, agar apa yang diserap oleh pikiran adalah hal yang benar dan baik. Pelatihan tiga potensi itu wajib; sebab segala sesuatu jika dilatih mulai dini ia akan tumbuh menjadi kuat, kokoh dan sehat. Kuat dan sehatnya ketiga alat transformasi pengetahuan itu memungkinkan arus pengetahuan yang menuju kepada jiwa dan akal adalah pengetahuan yang sehat juga. Dan dengan pengetahuan yang sehat itulah, seseorang tumbuh menjadi manusia paripurna, kuat menghadapi segala ujian kehidupan, dan mampu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi di masa depannya.

 

Menyadari hal yang demikian; maka di Gontor apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan santri disengaja diciptakan untuk mendidik. Setiap santri akan sangat familiar dengan filsafat pendidikan ini “apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu rasakan, adalah pendidikan!”, kalimat ‘disengaja diciptakan’ menunjukan bahwa pendidikan di Gontor tidak hanya saat siswa atau santri masuk kelas; sebab penglihatan, pendengaran, dan perasaan santri itu tidak hanya hidup saat ia ada di kelas, melainkan sepanjang santri itu membuka mata dan telinga, sehingga 24 jam waktu santri adalah 24 jam waktu Gontor berkewajiban mentransformasikan pendidikannya melalui apa yang dilihat didengar atau dirasakan santri.

 

Karena itu; maka setiap kali mata santri memandang; ia harus mendapatkan sesuatu yang bernilai. Demikian juga setiap kali santri itu mendengar, suara-suara yang terdengar oleh santri haruslah mengandung nilai! Karena pendengaran dan penglihatan selalu bertemu dengan segala hal yang bernilai, apa yang dirasakan santri kemudian dengan sendirinya adalah hal-hal yang bernilai. Kebiasan melihat, mendengar, merasakan yang baik-baik itu ditanamkan 24 jam kali lama santri itu belajar di Gontor; hasilnya adalah watak dan karakter, cara pandang kehidupan, pola sikap, tingkah laku, dan pola pikir santri itu akan berwarna sama, yakni warna Gontor.

 

Itulah kenapa kami selalu dinasehati untuk menjaga sakralitas kehidupan yang ada di Gontor ini, disamping karena ia adalah alat dalam mendidik santri, sakralisasi kehidupan itu adalah bagian dari akhlak seorang muslim. Menjadi seorang muslim artinya berani mempertanggung jawabkan atas setiap tindakan sekecil apapun yang ia lakukan di dunia ini dihadapan Allah yang tidak tidur, yang maha melihat segala hal, yang tersembunyi dan yang nampak. Karena apa yang kita lakukan dipertanggung jawabkan, lalu apa yang tidak sakral dalam hidup ini? Ya, tidak ada!

 

Maka di Gontor segala hal diatur, ada hal-hal yang dilarang, dan ada hal-hal yang dibolehkan, agar sesuai dengan miliu pendidikan yang diinginkan oleh Gontor. Aturan-aturan itu menciptakan kebiasaan, dan kebiasaan itu melahirkan budaya! Setiap orang yang hidup dalam naungan Gontor harus selalu belajar untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik agar terjaga budaya nilai yang sakral tadi. Kemauan untuk terus belajar dan mendidik diri sendiri Inilah kemudian yang kami kenal dengan istilah ‘long life education’ kewajiban untuk terus mendidik diri sendiri, mengembangkan kemampuan menyerap, dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik sepanjang usia diizinkan Allah untuk kita miliki, tidak ada titik untuk terus menambah ilmu selain kematian; karena itu Kyai kami selalu berpesan“arahah fil jannah’ istirahat itu di surga; selagi masih hidup; engkau harus terus berkembang dan hidup seperti ikan segar bukan gereh (ikan asin)!” wallahu a’lamu bishawab.

 

Bagaimana dengan kita di Darul Mujahadah? Apa bisa kita terapkan prinsip pembelajaran seperti di Gontor? Sejatinya bisa, kalau kita memiliki kemauan untuk menerapkannya. Mari muhasabah diri kita sendiri. Apakah selama ini sudah memberikan contoh yang baik kepada lingkungan kita, anak didik kita, keluarga kita? Merosotnya kedisiplinan para santri, pengurus OSDAM dalam kegiatan pembelajaran di kelas, di asrama dan kedisiplinan dalam beribadah, tidak lepas dari peran penting para tenaga edukatif yang ada.

 

Apa yang kita lakukan akan dilihat oleh anak didik kita. Apa yang kita katakan akan didengar oleh mereka. Semua yang kita kerjakan baik perbuatan, perkataan dan lain sebagainya adalah contoh bagi para santri. Sehingga secara tidak langsung kita semua menciptakan sebuah lingkungan/miliu untuk mereka dalam menuntut ilmu. Lingkungan yang baik dan kondusif akan menghasilkan peserta didik yang baik pula. Namun sebaliknya kalau lingkungan itu menciptakan para santri yang kurang bahkan jauh dari perilaku akhlakul karimah, sering berbohong, mengejek satu sama lain, berarti ada yang perlu kita benahi.

 

Tidaklah bijak kalau kita selalu menyalahkan anak didik kita ketika mereka melakukan kesalahan. Seakan-akan kesalahan adalah karena kesalahan mereka sendiri. Kita tidak sadar bahwa kesalahan yang mereka perbuat adalah sumbang sih yang kita berikan setiap saat baik langsung maupun tidak langsung yang mereka serap. Karena apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar dan apa yang mereka rasakan adalah pendidikan untuk mereka. Semoga kita tetap istikomah dalam menjaga amanah. Amanah ilmu yang kita miliki untuk ditransformasikan kepada para santri sehingga mereka menjadi generasi yang berakhlakul karimah, berpengetahuan luas dan sebagai perekat ummat. (NZ)

Komentar